sayup pandangan menentang mata.
tutur bicara dicengkam sepi.
teriakan jiwa semacam tiada henti.
namun sepi masih menghalang kata.
jemari digenggam, dibalas genggaman.
telinga dipasang,
"sampai sudah, kita tak kan ke mana."
mata dikatup, basah terasa.
sedar, ini hanyalah halusinasi.
sayangnya,
halusinasi adalah realiti.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.